Alfithrah(4/12/19). Mengawali bulan Desember, sejumlah Mahasiswa Program Studi Tasawuf dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia berkumpul di STAI Al Fithrah Kedinding Surabaya untuk mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) yang pertama. Kegiatan yang diadakan mulai tanggal 1-3 Desember itu dihadiri hampir semua anggota yang tergabung dalam perkumpulan tersebut, yang berjumlah 15 prodi dari perguruan tinggi Islam Negeri maupun Swasta.
Perguruan Tinggi yang tergabung adalah STAI Al Fithrah Surabaya, UIN Surabaya, IAIN Kediri, IAIN Tulungagung, INSTIKA An Nuqoyah Sumenep, Universitas Muhammadiyah Cirebon, UIN Semarang, STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta, UIN Palembang, UIN Bandung, IAIN Kudus, UIN Jakarta, UIN Lampung, IAIN Surakarta, IAIN Pekalongan.
Selama tiga hari, para mahasiswa tersebut merancang visi misi bersama sebagai organisasi mahasiswa bidang Tasawuf, dengan mengusung tema besar “Kingdom of Tasawuf Family”. Di Indonesia sendiri, dua jenis Progam Studi Tasawuf: Akhlak dan Tasawuf (yang kemudian berganti nama menjadi ilmu tasawuf), dan Tasawuf dan Psikoterapi. Sekalipun peserta yang hadir dalam munas tersebut terdiri dari dua jenis prodi yang berbeda, mereka sepakat untuk mendirikan organisasi mahasiswa yang bernafaskan spiritual tasawuf.
Abdus Shomad, Ketua Panitia penyelenggara, mengatakan bahwa kebutuhan akan organisasi mahasiswa yang punya dasar spiritual yang kokoh adalah kebutuhan di era kontemporer saat ini. Ia menambahkan, bahwa perkumpulan mahasiswa tasawuf ini bukan cuma sebagai wadah eksistensi program studi yang terbilang kurang diminati, akan tetapi di era postmodern ini “tasawuf bisa menjadi salah satu inspirasi moral dan spiritual bagi kehidupan sosial, dan itu akan kita suarakan mulai dari lingkungan kami sendiri yaitu di tingkat mahasiswa”.
Rangkaian kegiatan dalam Munas tersebut tidak hanya berisi sidang-sidang Pleno yang membahas garis besar haluan organisasi, hingga AD/ART. Seminar dengan tema “Pentingnya Organisasi Bernafaskan Tasawuf di Era Post-Modern” juga menjadi satu kegiatan yang mengakhiri perjalanan Munas. Dr. Ghozi, Lc. M.Fil.I menjelaskan dalam seminar tersebut bahwa spiritualitas adalah kebutuhan.
Ketua Prodi Tasawuf dan Psikoterapi UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut menambahkan, “transformasi tasawuf menjadi tarekat juga karena memandang pentingnya sebuah organisasi. Selain itu, ide-ide yang mengusung tema tasawuf modern sering kali dinilai telah melupakan aspek mursyid dan sanad dalam tasawuf. Sehingga dengan terbentuknya organisasi yang menghimpun mahasiswa tasawuf seluruh Indonesia ini, diharapkan dapat menjaga sanad keilmuan tasawuf, sekaligus “menjaga nafas spiritualitas di era postmodern ini”, tambahnya.
Fahrul Rohman, ketua Himaprodi STAI Al-Fithrah mengatakan, “kita belum sempat memantapkan nama organisasi ini karena waktunya yang terbatas”. Ia menjelaskan bahwa ada beberapa poin dari rangkaian pleno yang belum selesai. “Kita akan lanjutkan beberapa hal yang belum selesai di munas lanjutan yang, insya Allah akan kami adakan semester genap nanti, dan yang jelas tidak di sini.” Ujarnya.
Meski unsur-unsur penopang organisasi belum sepenuhnya final, terbentuknya organisasi mahasiswa tasawuf seluruh Indonesia ini layak mendapatkan dukungan dari semua pihak, khususnya semua civitas akademika Perguruan Tinggi Islam di manapun berada.

Leave a Comment