Surabaya– STAI Al Fithrah, kampus yang didirikan oleh Hadratus Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori al Ishaqy (pengasuh PP. Al Fithrah, Surabaya) bersama Prof. Softjan Tsauri (Ketua LIPI), Prof. Abdul Haris (Rektor UIN Maliki Malang), dan beberapa tokoh pendidikan Islam pada tahun 2008 ini berhasil melaksanakan sidang senat terbuka wisuda sarjana strata satu ke-9 nya. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, STAI Al Fithrah kali ini memilih melaksanakan wisuda secara virtual. Hal ini menurut Jusuf Syamsudin, ketua STAI Al Fithrah, dipilih untuk menghindari kerumanan massa yang dapat berpotensi menyebarkan Covid-19. “Surabaya masih termasuk zona merah, maka untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan kami memilih melaksanakan wisuda secara virtual“, pungkas Jusuf.

Lebih lanjut, Jusuf menjelaskan bahwa wisuda virtual ini dipilih karena Al Fithrah Surabaya menjadi pusat dari seluruh cabang Al Fithrah di Indonesia yang saat ini berjumlah 7 lembaga dan juga menjadi cermin bagi jamaah al-Khidmah baik yang ada di tanah air ataupun di luar negeri. “Kita ingin sampaikan bahwa di masa pandemi ini, kami taat aturan dan berusaha untuk menghindarkan diri dari kerumunan massa. Itulah sebabnya, bahkan haul akbar yang sejatinya dihelat setiap tahun sekali juga ditiadakan”.

Dalam pembacaan peserta wisuda ke-9 yang dihadiri oleh para tokoh agama seperti Habib Musthofa al-Jufri, Habib Abdurrohman Bin Aqil, Habib Ahmad Al-Haddar, KH. Hilmi Ahmad Basyaiban ini, dan tokoh-tokoh agama Islam lainnya ini, Pembantu Ketua I, Sofwan Hasan menyebutkan 79 wisudawan-wisudawati yang berhasil dinyatakan lulus pada wisuda kali ini dengan rincian Prodi ilmu Alquran dan Tafsir 11 wisudawan, Prodi Akhlak Tasawuf 27 wisudawan, Manajemen Pendidikan islam 26 wisudawan dan Perbankan Syariah 9 orang, dan Prodi Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) 6 wisudawan.

Sofwan juga mengumumkan wisudawan terbaik di kampus berbasis pesantren ini yang  diraih oleh Muhammad Rais Akbar (3.62) dari Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Misbahul Hadi (3.6) dari prodi Akhlak Tasawuf, Dianatul Ula (3.6) dari Prodi Manajemen Pendidikan Islam, Zulfatul Kamila (3.35) dari Prodi Perbankan Syariah, dan Siti Fatimah (3.6) dari Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. Berbeda dengan teman-teman lainnya yang harus daring, para wisudawan/ti terbaik ini diberikan hak priviledge untuk hadir. “karena sangat memungkinkan kalau cuma sedikit dan terbatas yang hadir” terang Abdur Rosyid, Puka 3 STAI Al Fithrah.

Sebagai orator ilmiah dalam wisuda ini adalah Imron Mawardi, ahli ekonomi Islam dari Universitas Airlangga Surabaya, sekaligus Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah Provinsi Jawa Timur, menyampaikan dalam orasinya yang bertemakan sinergitas pesantren untuk kemandirian ekonomi menyatakan bahwa Pesantren memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan unit bisnis, karena memiliki captive market yang besar. Pasar utama itu adalah  santri, alumni, keluarga santri dan alumni, dan masyarakat yang memiliki hubungan emosional yang kuat dengan kyai dan pesantren. Ia menyatakan, “keberadaan unit bisnis (ini) sangat penting bagi pesantren, karena dapat memberikan pelayanan kepada para stakeholder, sekaligus memperoleh laba untuk mendukung kemandirian pesantren. Dengan laba yang cukup besar, pesantren dapat menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas, namun dengan biaya yang terjangkau oleh santri yang sebagian besar dari kalangan menengah ke bawah.

Strategi pengembangan usaha pesantren menurut Imron  adalah memanfaatkan captive market dengan melakukan sinergi antar-pesantren. Sinergi dengan saling membeli produk pesantren lain untuk mencukup kebutuhan pesantran dan santri akan membuat nilai ekonomi transaksi akan dinikmati sendiri oleh pesantren, sehingga mempercepat kemandirian ekonomi.

Dalam wisuda daring tersebut, tidak lupa Ketua STAI Al Fithrah menyampaikan tentang para wisudawan yang tetap harus optimistis dan melihat yang terjadi sebagai peluang. “Mungkin bagi sebagian orang saat ini adalah situasi sulit, tapi yakinlah bahwa kalian akan survival dan akan menjadi orang yang bermanfaat”. Wisuda ke-9 ini lalu ditutup dengan doa yang dipimpin oleh para tokoh agama Islam yang hadir di acara tersebut (ik).

 

Leave a Comment