Di penghujung tahun 2020, tepatnya hari Sabtu, 19 Desember 2020, HIMA PRODI Akhlak Tasawuf dan BEM STAI AL FITHRAH Surabaya menyelenggarakan Webinar Nasional bertajuk “Equillibrium Relasi Manusia dan Alam dalam Diskursus Sufisme”.  Webinar ini menghadirkan salah satu tokoh nasional, Dr. (HC) KH. Husein Muhammad, atau yang dikenal dengan sebutan Buya Husein, sebagai pemateri pertama. Sedang pemateri kedua, Dr. H. Muhammad Musyafa’, M.Th.I, ketua Prodi IAT STAI Al Fithrah.

Seminar yang dipandu oleh Chafid Wahyudi, M.Fil.I, ketua Prodi AT STAI Al Fithrah ini, berangkat dari kegelisahan tentang kesetaran manusia dengan alam yang tidak lagi equillibrium. Dalam pembukaannya, moderator  menyampaiakan: “Kesetaraan kerap kali hanya berhenti pada kesetaraan sesama manusia (homo socius), kesetaraan dengan makhluk lainnya, seperti dengan binatang, tumbuhan dan lain sebagainya, terasa timpang.”

Menjawab kegelisahan tersebut, Buya Husein Muhammad, yang juga pengasuh Pondok Pesantren Dar al-Fikr Arjowinangun Cirebon, mengungkapkan: “Meskipun alam ini diciptakan untuk manusia, tapi tetap tidak boleh rakus. Keseimbangan antara alam dan manusia tetap harus dijaga, tentunya alam dengan segala elemen penghuninya.

Buya menambahkan,  bahwa menjaga keseimbangan antara manusia dan alam adalah hal yang penting. Karena dalam lendir manusia terkandung potensi alam. Alam berperan sebagai penyedia kebutuhan manusia, dan dari alam, manusia berproduksi dan mengkonsumsi.

Selanjutnya Buya Husein mengutip Husain Al-Hallaj, bahwa Alam adalah manifestasi Allah dalam mencerminkan diri-Nya, yang anti materi dan hanya satu, yaitu Tuhan yang tak terlihat. Allah dikenali melalui alam, pendekatan kepada Allah SWT tidak dapat dipikirkan.

Sedangkan,  Dr. H. Muhammad Musyaffa, menanggapi kegelisahan yang disampaikan oleh moderator, memberikan solusi melalui konsepsi musyahadah. Menurutnya, musyahadah adalah instrument aktualisasi dalam berdampingan dengan alam. Dalam penjelasannya, hendaklah kita merasa seakan memandang Allah SWT dan bila tidak sanggup, merasalah kita diawasi, dilihat oleh Allah.

Dengan begitu, yakni memandang segala hal sebagai bentuk ciptaan Allah SWT, maka sikap husnul khuluq akan dikedepankan. Husnul khuluq kepada semua aspek akan menelurkan rasa kasih sayang (al-Syafaqah) dan cinta (al-Mahabbah) kepada sesama makhluk Allah SWT, sehingga keseimbangan akan terbentuk. Demikian penjelasan yang disampaikan oleh doktor, yang saat ini juga menjabat sebagai Kepala Pondok Pesantren Al-Fithrah Assalafi Surabaya. Beliau juga tercatat sebai santri senior dari alm. KH. Achmad Asrori al-Ishaqi, pendiri pondok pesantren Al-Fithrah Surabaya.

Di penghujung acara yang di hadiri ratusan peserta secara virtual ini, ditutup dua kalam indah disampaikan oleh Buya Husein Muhammad:

العاقل من نظر الحقائق من الأشياء لا من صورها

Orang yang berakal ialah orang yang melihat pada hakikatnya, bukan pada kulitnya.

Jangan menghina sesuatu, karena Allah SWT tidak pernah menghina sewaktu menciptakan”.

(Dinarasikan oleh: Tim Redaksi HIMA PRODI Akhlak Tasawuf)

Leave a Comment